This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label TRADISI( ADAT ISTIADAT ). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TRADISI( ADAT ISTIADAT ). Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 November 2013

TEDAK SITEN



Upacara Tedak Siten atau di sebut juga Upacara Turun Tanah merupakan upacara tradisi masyarakat Jawa yang di adakan pada anak pertama dari pasangan suami istri. Tepatnya waktu diadakan upacara ini adalah saat sang anak berumur tujuh lapan (7x 38 hari) atau ketika anak mulai belajar berjalan. Makna dari upacara ini adalah untuk memperkenalkan anak untuk pertama kali nya pada tanah/ bumi dengan maksud agar kelak anak tersebut mampu untuk berdiri sendiri dan mampu untuk melewati segala tantangan dalam kehidupan nya.

Adapun jalan nya upacara ini akan kami jelaskan satu persatu
Kedua orang tua sang anak melakukan sungkeman kepada Eyang dan para sesepuh yang bertujuan untuk meminta restu agar sang anak beserta orang tua nya selalu di lindungi di berkahi oleh Allah SWT

Anak di bimbing/ di titah untuk menginjak kan 7 juwadah (ketan) warna warni yang berwarna : putih, merah, biru,

 kuning,ungu, hitam, jingga
Makna nya adalah agar anak mampu untuk menghadapi segala bentuk tantangan akan akan selalu muncul dalam kehidupan nya

Selanjutnya anak di naik kan ke tangga yang terbuat dari tebu merah hati ( tebu wulung)
Maknanya adalah agar sang anak memiliki ketetepan hati ( anteping kalbu) dalam mengejar cita cita nya dan tak gampang menyerah

Selanjutnya anak di masukkan kedalam kurungan ayam yang di dalam nya telah di masukkan beberapa benda seperti mainan ( contoh : anak laki :mobil mobilan, bola, alat musik,dll, anak perempuan : alat masak, stetoskop,dll) perhiasan, uang, kitab suci, buku, alat tulis.dll, Anak akan mengambil salah satu benda tersebut dan sebagai gambaran akan menjadi apa kelak jika sudah besar. Makna nya dari kurungan ayam ini adalah agar anak tersbut kelak akan masuk ke semua lingkungan masyarakat dengan baik dan dapat mematuhi segala aturan

Setelah itu anak di mandikan di bokor dengan siraman air bunga setaman dengan maksud anak tersebut nanti nya akan membawa nama harum bagi orang tua nya dan anak itu sendiri serta akan menjalani kehidupan yang bersih

Kedua orang tua sang anak memotong tumpeng slamet yang bertujuan agar nanti nya kehidupan anak beserta orang tua dan keluarganya akan selalu mendapt lindungan dari Allah SWT.
Setelah itu kedua orang tua menyebarkan beras kuning / empon empon berisi koin kepada para tamu yang hadir dengan maksud memberikan rezeki kepada orang lain

Upacara Adat Rambu Solo


Upacara Adat Rambu Solo adalah upacara adat kematian masyarakat Tana Toraja (upacara penyempurnaan kematian) untuk menghormati dan mengantarkan arwah orang yang meninggal dunia menuju alam roh, yaitu kembali kepada keabadian bersama para leluhur mereka di sebuah tempat peristirahatan yang disebut Puya, di bagian selatan tempat tinggal manusia. Puncak acara ini disebut Upacara Rante serta acara lain seperti Adu Kerbau, Adu Kaki dan-lain-lain
Upacara Adat Rambu Solo sering juga disebut upacara penyempurnaan kematian, karena orang yang meninggal baru dianggap benar-benar meninggal setelah seluruh prosesi upacara ini lengkapi. Jika belum, maka orang yang meninggal tersebut hanya dianggap sebagai orang “sakit” atau “lemah”, sehingga ia tetap diperlakukan seperti halnya orang hidup, yaitu dibaringkan di tempat tidur dan diberi hidangan makanan dan minuman, bahkan selalu diajak berbicara.
Oleh karena itu, masyarakat setempat menganggap Upacara Adat Rambu Solo ini sangat penting, karena kesempurnaan upacara ini akan menentukan posisi arwah orang yang meninggal tersebut, apakah sebagai arwah gentayangan (bombo), arwah yang mencapai tingkat dewa (to-membali puang), atau menjadi dewa pelindung (deata). Upacara Rambu Solo menjadi sebuah “kewajiban”, sehingga dengan cara apapun masyarakat Tana Toraja akan mengadakannnya sebagai bentuk pengabdian kepada orang tua mereka yang meninggal dunia.
Kemeriahan upacara Rambu Solo ditentukan oleh status sosial keluarga yang meninggal, diukur dari jumlah hewan yang dikorbankan. Semakin banyak kerbau disembelih, semakin tinggi status sosialnya. Biasanya, untuk keluarga bangsawan, jumlah kerbau yang disembelih berkisar antara 24-100 ekor, sedangkan warga golongan menengah berkisar 8 ekor kerbau ditambah 50 ekor babi. Dulu, upacara ini hanya mampu dilaksanakan oleh keluarga bangsawan. Namun seiring dengan perkembangan ekonomi, strata sosial tidak lagi berdasarkan pada keturunan atau kedudukan, melainkan berdasarkan tingkat pendidikan dan kemampanan ekonomi.

Upacara Rante
Puncak dari upacara Rambu Solo disebut dengan upacara Rante yang dilaksanakan di sebuah “lapangan khusus”. Dalam upacara Rante ini terdapat beberapa rangkaian ritual , seperti proses pembungkusan jenazah (ma‘tudan, mebalun), pembubuhan ornamen dari benang emas dan perak pada peti jenazah (ma‘roto), penurunan jenazah ke lumbung untuk disemayamkan (ma‘popengkalo alang), dan proses pengusungan jenazah ke tempat peristirahatan terakhir (ma‘palao).

Rangkaian Upacara ini , juga terdapat berbagai atrakasi budaya yang dipertontonkan, di antaranya: Adu kerbau (mappasilaga tedong), kerbau-kerbau yang akan dikorbankan diadu terlebih dahulu sebelum disembelih; dan Adu kaki (sisemba). Dalam upacara tersebut juga dipentaskan beberapa musik tradional, seperti pa‘pompan, pa‘dali-dali dan unnosong; serta beberapa tarian, seperti pa‘badong, pa‘dondi, pa‘randing, pa‘katia, pa‘papanggan, passailo dan pa‘pasilaga tedong.
Menariknya lagi, kerbau disembelih dengan cara yang sangat unik dan merupakan ciri khas mayarakat Tana Toraja, yaitu menebas leher kerbau hanya dengan sekali tebasan. Jenis kerbau yang disembelih pun bukan kerbau biasa, tetapi kerbau bule (tedong bonga) yang harganya cukup mahal sampai dengan 50 juta perekor (2009). Selain itu, juga terdapat pemandangan yang sangat menakjubkan, yaitu ketika iring-iringan para pelayat yang sedang mengantarkan jenazah menuju Puya, dari kejauhan tampak kain merah panjang bagaikan selendang raksasa membentang di antara pelayat tersebut.


Sabtu, 23 November 2013

SEDEKAH LAUT


Prosesi Sedekah Laut Cilacap


Setiap masyarakat di suatu tempat atau daerah tertentu pasti memiliki kebiasaan kebiasaan adat tertentu.  Terlebih di daerah daerah Indonesia, yang mana Negara Indonesia sendiri merupakan Negara kepulauan, tentunya ini berdampak lebih terhadap aktifitas kebudayaan. Distribusi kebudayaan dari asing, influence budaya asing terhadap budaya asli Indonesia, dan lain lain.
Kebudayaan kebudayaan asli suatu masyarakat tentunya telah terukir dengan sangat mendalam di setiap jiwa para anggota masyarakat tersebut, terlebih ketika suatu kelompok masyarakat tersebut memiliki akses yang kurang intens dan terbatas dengan dunia luar. Namun banyak pula yang kebudayaan kebudayaan asli suatu daerah tetap dipertahankan meski jaman telah berkembang secara pesat baik dalam bidang teknologi, intelektual individu, pola pikir, dan lain lain. Dan masyarakat menganggapnya sudah menjadi tradisi turun menurun. Salah satu contohnya adalah ritual Sedekah Laut atau ada beberapa yang menyebutnya larung sesaji ke laut. Di Cilacap Jawa Tengah contohnya. Acara atau prosesi tersebut dilaksanakan setiap bulan Muharam atau Sura pada hari Jumat Kliwon siang. Kegiatannya adalah menghanyutkan sesaji dan kepala kerbau ke laut untuk persembahan kepada Nayi Roro Kidul  yang mana  Nyai Roro Kidul diyakini masyarakat sekitar sebagai ratu penguasa pantai selatan. Segala penghidupan yang berasal dari laut mereka yakini atas campur tangan Nyai Roro Kidul. Oleh karena itu Nyai Roro Kidul sangat dihormati, persembahan persembahan sesaji itu diharap untuk mendapatkan ridho dan simpati dari Sang Ratu.
Beberapa hari sebelum prosesi dilakukan, biasanya pemerintah sudah memberikan wara wara dalam bentuk baliho atau sepanduk di jalan jalan kota Cilacap, sehubungan dengan waktu dan tempat diadakan, biasanya di pantai Teluk Penyu Cilacap. Pada satu hari sebelumnya, diadakan nyekar atau ziarah yang dilakukan oleh sesepuh atau pemimpin ritual di pulau Majethi dan dilanjutkan dengan pengambilan air suci di pulau tersebut, dimana pulau tersebut merupakan tempat tumbuhnya bunga Wijayakusuma. Malam harinya dilaksanakan tirakatan yang dilakukan oleh beberapa masyarakat dan sesepuh di pendopo kota dan dilanjutkan potong tumpeng, pembuatan sesaji, gunungan yang berbentuk rumah joglo, dan pernak pernik lainnya untuk prosesi larung sesaji besok harinya. Kesokan harinya sesaji, gunungan dan segala perlengakapan ritual lainnya dibawa menuju laut, dna kemudian dilarungkan atau dihanyutkan secara khidmat.
                Dari kegitan tersebut kita dapat mengamati, kegiatan tersebut dilakukan secara mendalam sebagai nilai nilai luhur yang sangat dijunjung tinggi oleh masyarkat. Kegiatan tersebut merupakan bentuk suatu akulturasi nilai nilai keislaman masyarakat dengan keyakinan animisme-dinamisme dan hindu-budha jaman dulu. Nilai keislaman terdapat pada bacaan bacaan yang dilantunkan, serta shalawat juga kerap kali dilalntunkan, nilai animism-dinamisme dan hindu-budha terdapat pada proses pemakaian sesaji sesaji.
Kegiatan tersebut merupakan prosesi sakral dan mengandung nilai nilai kewajiban bagi kalangan masyarakat. Bila tidak dilangsungkan maka akan mendapat feedback tertentu. Acara tersebut dimulai sekitar tahun 1817 ketika pemerintahan Adipati Cakrawerdaya III, beberapa tahun sempat diberhentikan namun kembali diadakan kembali ketika kepemimpinan Bupati Poedjono sekitar tahun 1982. Dan akhirnya sampai sekarangpun prosesi tersebut rutin diadakan setiap bulan Muharam atau Sura. Sebenarnya prosesi tersebut juga sedikit menimbulkan pro dan kontra, terlebih bagi mereka mereka yang religious. Mereka menganggap prosesi tersebut menjadi sesuatu yang berbau akan syirik, yaitu menduakan Tuhan. Namun para masyarakat yang setia pada prosesi tersebut hanya menganggapnya angina lalu. Sekitar tahun 2011 pernh ada kejadian kapal meledak ketika acara sedekah laut, sedikitnya 17 orang penumpang kapal yang bermaksud menyaksikan menjadi korban. Namun kejadian itu tidak membatalkan prosesi  Ssedekah Laut.
                Saya asli orang Cilacap, menurut saya pribadi, kegiatan atau prosesi tersebut sudah mendarah daging bagi masyrakat kota Cilacap yang bertempat tinggal di sekitar pantai khususnya. Kalau kita bicara tentang keberlangsungan, sampai kapan acara tersebut akan dapat dipertahankan, kita dapat melihat pada latar belakang individual masing masing masyarakatnya dan arus pola pikir masyarakatnya. Dilihat dari latar belakang, kebanyakan penganut prosesi tersebut adalah mereka yang bertempat tinggal di sekitaran pantai, dan sebagian besar masyarakat Cilacap memang bermata pencaharian sebagai nelayan. Dilihat secara pola pikir, masyarakat sekarang tentunya sudah berpikir lebih, intelek, dan kritis. Seperti Bupati Cilacap sendir Tatto S. Pamuji, 100 persen mendukung acara tersebut, tetapi beliau lebih menekankan pada sisi entertainment . Acara yang bersifat sacral dapat dinikmati oleh baik kalangan masyrakat Cilacap sendiri atau orang luar Cilacapa atau bahkan luar negeri menjadi suatu acara yang mengasyikan. Dan ini bias berarti menambah income sendiri bagi kota Cilacap. Selama acara tersebut tidak mengakibatkan suatu hal yang buruk saya kira sah sah saja, terlebih acara seperti ini dapat membuat nama Kota saya sendiri terkenal dengan karakteristik kebudayaannya tersebut.



Hanami (tradisi jepang sambut mekarnya bunga sakura)




Sakura, inilah bunga khas yang menjadi ikon negeri matahari terbit, Jepang. Mekarnya bunga Sakura menjadi tanda hadirnya musim semi. Nah, sahabat wisata muslim Jepang, hadirnya musim semi merupakan kebahagiaan tersendiri bagi masyarakat Jepang setelah menjalani kehidupan yang berat dalam musim dingin. Untuk itu, masyarakat Jepang punya cara tersendiri untuk merayakan datangnya musim semi, yaitu dengan mengadakan acara Hanami!

Awal kisah perayaan Hanami
Hanami  berasal dari hana wo miru yang berarti melihat bunga atau ohanami. Inilah tradisi Jepang dalam menikmati keindahan bunga, khususnya bunga sakura. Selain itu, hanami juga bisa diartikan sebagai piknik dengan menggelar tikar untuk pesta makan-makan di bawah pohon sakura.
Nah, pada saat perayaan hanami, rombongan demi rombongan berpiknik menggelar tikar dan duduk-duduk di bawah pepohonan sakura untuk bergembira bersama, minum sake, makan makanan khas Jepang. Tak ubahnya seperti pesta kebun. Ada kelompok keluarga, kelompok perusahaan, organisasi, sekolah, dan sebagainya.


Berbicara tentang sejarah Hanami, kebiasaan perayaan ini dipengaruhi oleh tradisi raja-raja Cina yang gemar menanam  pohon plum di sekitar istana mereka. Di Jepang, para bangsawan pun mulai menikmati bunga Ume (plum). Pada abad ke-8 atau awal  periode Heian, obyek bunga yang dinikmati bergeser mulai bergeser, dari bunga plum ke bunga sakura.

Dikisahkan pula bahwa RajaSaga di era Jepang dahulu gemar menyelenggarakan pesta hanami di taman Shinsenen di Kyoto. Para bangsawan pun menikmati hanami di berbagai istana mereka, dan para petanimasa itu melakukannya dengan mendaki gunung terdekat di awal musim semi untukmenikmati bunga sakura yang tumbuh disana sambil `tidak lupa membawa bekal untuk makan siang. Hingga kini hanami menjadi kebiasaan yang mengakar di seluruh masyarakat Jepang dan telah diterima sebagai salah satu kekhasan bangsanya.

Cara masyarakat Jepang ber-Hanami

Pada saat perayaan hanami, semua orang berkumpul di bawah rindangnya pohon sakura untuk makan dan minum bersama sambil bernyanyi dan menari sepanjang malam. Umumnya mereka membawa makanan yang dipersiapkan sendiri dari rumah (bento). Namun ada juga yang membeli dari penjual makanan di tempat acara hanami berlangsung.



Oleh karena di kebun, para pengunjung banyak menggelar tikar di sepanjang jalan di bawah pohon sakura. Di sana mereka makan dan minum bersama. Tak jarang sampah yang dihasilkan sangat banyak dan menggunung.

Dalam perayaan hanami saat ini, terjadi sedikit pergeseran. Jika orang-orang tua menari-nari dengan gaya tradisionalnya, ada kalangan muda yang berjingkrak-jingkrak dengan musik kerasnya. Suasana pun menjadi hingar-bingar.

Satu hal lagi yang tak bisa dielakkan yaitu kebiasaan meminum sake, bahkan sampai mabuk. Jika sudah begini, tak jarang terjadi keirbutan karena mabuk dan salah pengertian. Nah, jika sahabat wisata muslim Jepang ingin menikmati hanami, bisa memilih tempat yang dirasa tepat dan nyaman dari gangguan-gangguan tersebut.

Hanami dan loyalitas tradisi
Perayaan Hanami berupa acara perayaan untuk melihat bunga sakura, bunga khas yang menjadi ikon negeri Matahari Terbit ini. Perayaan hanami merupakan satu dari beberapa perayaan tahunan di negara Jepang yang diselenggarakan pada musim semi, tepatnya pada bulan April.



Adanya tradisi ini memang cukup menarik perhatian. Di negara maju seperti Jepang, terdapat perayaan untuk menyambut mekarnya bunga sakura. Memang, bisa jadi bukan bunga sakura itu sendiri yang menjadi poin penekanan perayaan ini, melainkan datangnya musim semi yang hangat dan bersahabat untuk melaksanakan segala aktivitas. Hanya saja, musim semi di Jepang memang identik dengan muncul dan mekarnya bunga sakura. Nah, suasana seperti ini yang kelihatannya tidak terlihat menonjol di daerah tropis Indonesia.

Perayaan semacam ini mungkin tidak bisa kita jumpai di negara-negara lain, yang menakjubkan adalah masyarakat Jepang tetap melestarikan budaya hanami, meskipun di era modern ini banyak pilihan tempat untuk bersantai bersama keluarga, misalnya dengan pergi ke tempat karaoke.

Pada saat-saat mekarnya bunga sakura, masyarakat Jepang tetap memilih berkumpul dan bersantai bersama keluarga di bawah pohon sakura sambil menikmati keindahan bunga sakura. Kemajuan teknologi tidak lantas menggeser tradisi sederhana ini. Mereka lebih memilih untuk berkumpul bersama bersama keluarga dan sahabat dibandingkan kongkow-kongkow di tempat karaoke.



Konon, bunga sakura hanya mekar selama tujuh sampai sepuluh hari. Singkatnya masa ini memang tidak dilewatkan begitu saja oleh masyarakat jepang.

Secara umum, bunga sakura akan mulai bermekaran secara bertahap. Mekarnya bunga dimulai dari daerah selatan yang berudara lebih hangat, yaitu di pulau Okinawa. Selanjutnya, mekarnya bunga sakura akan merambat ke bagian utara yang berakhir di Hokkaido.

Lokasi perayaan Hanami
Oleh karena hanami hanya satu kali setahun diselenggarakan, rasanya memang sayang untuk dilewatkan. Lalu, tempat mana saja yang biasa digunakan untuk merayakan hanami?

Jawabnya adalah Osaka Castle. Osaka Castle terletak di kota Osaka. Tempat ini termasuk salah satu tempat favorit untuk ber-hanami. Puri ini dikelilingi taman yang penuh dengan pohon cherry, plum, dan sakura yang berbunga indah saat musim semi.

Tak hanya di Osaka, tempat lain yang bisa digunakan untuk melihat bunga sakura beramai-ramai adalah sebagai berikut.

Tokyo: Taman Ueno (Taito-ku), Taman Inogashira (kota Musashino), Taman Koganei (kota Koganei), Taman Shinjuku-gyoen (Shinjuku-ku), Taman Sumida (Sumida-ku). 

Prefektur Gifu: Kamagatani (kota Ikeda), Taman Usuzumi/Neodani (kota Motosu), Pinggir Sungai Shinsakai (kota Kakamigahara).



Prefektur Hyogo: Taman Akashi (kota Akashi), Taman Shukugawa (Nishinomiya), Taman Istana Himeji (kota Himeji).

Prefektur Nara: Pegunungan Yoshino (kota Yoshino), Taman Kooriyamajoshi (Yamato Kooriyama), Taman Nara (kota Nara).
Prefektur Osaka: The Mint Bureau (Osaka), Taman Expo ’70 (kota Suita), Taman Istana Osaka (Osaka).


Demikian sekilas cerita tentang Hanami, Tradisi Jepang Sambut Mekarnya Bunga Sakura.

Tradisi potong jari


TRADISI POTONG JARI, TRADISI BERKABUNG DI PAPUA
Kesedihan saat telah ditinggal pergi oleh orang yang cintai dan kehilangan salah satu anggota keluarga sangat perih.

Lain halnya dengan masyarakat pegunungan tengah Papua yang melambangkan kesedihan lantaran kehilangan salah satu anggota keluarganya yang meninggal tidak hanya dengan menangis saja. Melainkan ada tradisi yang diwajibkan saat ada anggota keluarga atau kerabat dekat seperti; suami,istri, ayah, ibu, anak dan adik yang meninggal dunia. Tradisi yang diwajibkan adalah tradisi potong jari. Jika kita melihat tradisi potong jari dalam kekinian pastilah tradisi ini tidak seharusnya dilakukan atau mungkin tradisi ini tergolong tradisi ekstrim. Akan tetapi bagi masyarakat pegunungan tengah Papua, tradisi ini adalah sebuah kewajiban yang harus dilakukan. Mereka beranggapan bahwa memotong jari adalah symbol dari sakit dan pedihnya seseorang yang kehilangan sebagian anggota keluarganya.
Bisa diartikan jari adalah symbol kerukunan, kebersatuan dan kekuatan dalam diri manusia maupun sebuah keluarga. Walaupun dalam penamaan jari yang ada ditangan manusia hanya menyebutkan satu perwakilan keluarga yaitu Ibu jari. Akan tetapi jika dicermati perbadaan setiap bentuk dan panjang memiliki sebuah kesatuan dan kekuatan kebersamaan untuk meringankan semua beban pekerjaan manusia. Satu sama lain saling melengkapi sebagai suatu harmonisasi hidup dan kehidupan. Jika salah satu hilang, maka hilanglah komponen kebersamaan dan berkuranglah kekuatan.
Alasan lainya adalah "Wene opakima dapulik welaikarek mekehasik" atau pedoman dasar hidup bersama dalam satu keluarga, satu fam/marga, satu honai (rumah), satu suku, satu leluhur, satu bahasa, satu sejarah/asal-muasal, dan sebagainya (Hisage, Yulianus Joli, 07:2005). Kebersamaan sangatlah penting bagi masyarakat pegunungan tengah Papua. Hanya luka dan darah yang tersisa. Pedih-perih yang meliput suasana. Luka hati orang yang ditinggal mati anggota keluarga baru sembuh jika luka di jari sudah sembuh dan tidak terasa sakit lagi. Mungkin karena itulah masyarakat pegunungan papua memotong jari saat ada keluarga yang meninggal dunia.

Menurut informasi yang telah berkembang, bahwa pemotongan jari umumnya dilakukan oleh kaum ibu. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan pemotongan dilakukan oleh anggota orang tua keluarga laki-laki atau perempuan. Jika tersebut kasus yang meninggal adalah istri yang tak memiliki orang tua, maka sang suami yang menanggungnya.
Tradisi potong jari juga dilakukan oleh para Yakuza di Jepang. Tradisi ini muncul dari kaum Bakuto yang berartikan kaum penjudi. Tradisi potong jari disebut dengan yubitsume. Berbeda dengan yang ada di Papua pemotongan jari sebagai penolakan musibah yang merenggut nyawa atau bentuk berkabung karena anggota keluarga meninggal dunia. Akan tetapi yubitsume (potong jari) dilakukan sebagai penyesalan atapun sebagai bentuk hukuman. Awalnya hukuman yubitsume bersifat simbolik, karena ruas atas jari kelingking yang dipotong membuat si empunya tangan menjadi lebih sulit memegang pedang dengan kuat. Hal ini menjadi simbol kesungguhan dan ketaatan terhadap pemimpin.
Tradisi potong jari di Papua dilakukan dengan berbagai cara ada yang menggunakan benda tajam seperti pisau, kapak atau parang. Cara lainya yaitu mengikat jari dengan seutas tali sampai beberapa lama waktunya sehingga menyebabkan aliran darah terhenti dan pada saat aliran darah berhenti baru dilakukan pemotongan jari.

Selain tradisi pemotongan jari, ada juga tradisi yang dilakukan dalam upacara berkabung. Tradisi tersebut adalah tradisi mandi lumpur. Mandi lumpur dilakukan oleh kelompok atau anggota dalam jangka waktu tertentu. Mandi lumpur mempunyai konotasi berarti setiap orang yang telah meninggal dunia telah kembali kea lam. Manusia berawal dari tanah dan kembali ke tanah.

Tradisi potong jari pada saat ini belom ada sumber yang mengatakan bahwa masih berlangsung tradisi potong jari, namun belum ada sumber juga yang menyebutkan tradisi ini telah punah dan tidak dilaksanakan lagi. Bisa dikatakan ada namun jarang ditemui atau dilakukan dikarenakan mungkin karena pengaruh agama yang mulai berkembang di sekitar daerah pegunungan tengah Papua.